Aku terlahir di tengah hiruk pikuknya jantung kota metropolitan, sebuah perkampungan kecil tersudut sebelah utara Jakarta. Dalam keadaan yang biasa, juga sederhana sama seperti mereka. Belajar dan bersekolah dengan baik, hingga beruntung dapat menyelesaikan pendidikan hingga di bangku perguruan tinggi, namun itu tak sebaik dengan langkah perjalanan cintaku yang terkandas sebelum sampai dipenghujungnya. Kebahagiaan asmaraku dirampas oleh seorang petualang cinta. Padahal telah cukup lama merangkai tali asmara dan membangun padepokan hati, mungkin sekitar lima tahun. Tapi itulah yang namanya petaka; “Malang tak dapat ditolak, untung tak mampu diraih”.
Keadaan itu sempat membuatku terpuruk, jatuh ke dalam lubang luka, sebuah telaga yang mengalirkan derai airmata. Karena, aku bukanlah orang yang tegar dalam hal urusan asmara, mungkin menurut mereka disebut “cengeng”. Ya, dua tahun lebih berusaha mendustai diri sendiri. Aku bohong, mengatakan kalau tetap nyaman-nyaman saja dan menikmatinya.
Beberapa tahun yang melelahkan, bertarung dengan diri sendiri. Tapi aku juga tak mau larut dengan konflik batin ini. Lewat dunia maya menghibur segala lara, berusaha menghindar dengan menuliskan apapun yang terbesit di benak/hati, dengan iringan genderang bertalu-talu menyemangati diri sendiri agar tak benar-benar merasa hampa. Tetapi, hampir saja terjatuh untuk yang kedua kalinya. Sebuah olok-olokan yang mengatakan, kalau aku terlalu banyak bermimpi, selalu bermain dengan halusinasi dengan imajinasi.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara pikiran sempit dan hati kecilku; “Salahkan jika aku bermimpi? Aku tak mau monoton, datar, tapi aku sedang mencoba lari dari perih?”.
Mungkin karena aku terlalu kencang berlari, tak mengijinkan rehat barang sejenak, menguatkan hati agar tak menangisi kepiluan. Sebab, aku bukanlah orang yang cengeng seperti yang mereka tuduhkan. Tak akan kubiarkan airmata jatuh untuk sebuah keironisan realita. Namun pada akhirnya, sepertinya Tuhan telah menuntunku untuk menemukan jawaban dari kepedihan. Tersadar, bahwa harus istirahat setelah letih berkelana. Bila sudah mencapai puncak maka pendakian telah usai harus turun kembali ke dataran rendah.
Saatnya menghela nafas panjang, jeda sejenak dari segala kepenatan walau sesekali menyelipkan sebuah isak pilu di dalamnya. Kini, tak malu untuk menangis jika memang itu dapat melegakan. Bahkan, angkuhnya tatapan matahari pun sesekali harus tunduk kepada sang dewi hujan. Bukan pula suatu kelemahan, namun harus diakui jika memang diri ini masih lemah.
Sedangkan dilain sisi, selagi embun pagi masih memberikan kesejukan, matahari masih memancarkan sinarnya, langit masih biru, burung-burung masih berkicau merdu, dan pepohonan masih berbunga. Berarti, aku juga masih bisa tersenyum. Jika langit sedang menguraikan rintik hujan, aku pun boleh menggulirkan air mata, karena memang begitulah rotasi kehidupan. Pun tentang kisah cintaku.
Berbicara mengenai cinta, memang cintalah yang menghidupkan fiksi-fiksi dunia. Pun celoteh ini tercipta karena penulisnya pernah menjilat gula-gula cinta, juga menghisap kegetirannya. Siapapun boleh memiliki cinta, karena cinta milik hati. Bila ruh yang menggerakan raga maka cintalah yang menghidupkan hati. Cahaya cinta akan tetap menyala jika hati masih memiliki cinta, tanpanya maka setiap insan akan kehilangan makna hidupnya. Bahkan, alam kematian akan tetap bermakna jika di dalam hatinya melahirkan bulir-bulir cinta.
Cinta itu seperti tumbuhan. Benihnya akan bertunas setelah mendapat pancaran sinar matahari dan tetesan air hujan, lalu tumbuh meninggi, membesar, berbunga, dan berbuah. Pun kehidupan cinta pada manusia, walau perjalanannya tak selalu mulus, tetapi Tuhan telah mempersiapkan sekian banyak benih cinta yang dapat disemaikan ke dalam hati siapapun.
Bila cinta sudah ditempatkan pada ruang hati, maka tak pernah ada tempat lagi bagi selain yang dicintai. Bila terjadi skandal perselingkuhan? Itu bukanlah cinta, melainkan sebuah nafsu, ego yang tak terkendalikan. Mencintai karena iming-iming. Menyebabkan banyak hati yang menjadi korban, tersakiti oleh kepalsuan cinta.
Kesungguhan cinta tak akan terpunahkan oleh harta, takha, sedih/senang, jarak, maupun waktu. Cahayanya tetap berbinar dalam dituasi dan kondisi apapun. Mencintai karena apa adanya, bukan karena ada apanya.
Ketika banyak insan yang terbakar oleh api cinta, kecewa dan mencucurkan air mata karenanya, membelah-belah asa, bahkan kerap terjadi perceraian. Lalu, kemanakah akan engkau labuhkan cintamu? Sedalam apa benih cinta yang telah ditancapkan? Benarkan itu adalah pelabuhan terakhir dari pelayaran cintamu?
Ya, cukup itu saja tak banyak pertanyaan!
Sedangkan aku. Bagaimana mungkin bisa terbang mencari cinta, melepaskan panah-panah asmara jika sayap-sayap asaku telah terpatahkan. Penggalannya tinggal separuh dan membiru?
Sayap kiriku belum tumbuh sempurna, jika ingin terbang maka aku harus meminjam kepada seseorang, mampir ke rumahnya. Mengambil sendiri sayap itu agar nanti dapat terbang bersama, mengepakkan sayap sekuatku berlayar dan tak berlabuh di lembah yang curam, pada cinta yang membuatku buta dan menangis. Kuputuskan, dalam diam mencintai, tak perlu diucapkan. Cukup sederhana. Itu saja. pasif.
Aku diam bukan berarti tak tahu tentang hal-hal yang (tak) kusuka.
Menyodorkan melodi cinta
Menembangkan kebahagiaan
Pun mengguratkan luka
Dramatisir lika liku sepasang anak manusia
Dia yang selalu aku tulis
Aku yang tak pernah dia baca
Galau ya Om... apa sedang patah hati ceritanya ini teh ya ? ...
ReplyDeletebaca dari atas sampai bawah beberapa kali gak seperti biasanya hehehe...
Semangat atuh om... dunia tidak selebar daun singkong di kebun... :D
mending ngadangukeun lagu Teh Nining Meida yuk ah...
Lagi mengenang masa-masa LaLu Kang, yang kadang memang suka terinspirasi dari suatu Lagu. bahkan seteLah barusan ngadangukeun Laguna Teh Nining Meida jadi teringat sama memori yang mirip-mirip dengan aLur Lagu tersebut.
Deletesebentar Lagi ge di posting, nuhun Kang pancingan inspirasinya.
ini tulisan sendiri atau disadur dari buku om??
ReplyDeletekeren euy tulisannya, semangat om
biasanya apa yang saya tuLis berdasarkan pengaLaman pribadi atau meLihat pengaLaman orang Lain.
Deletetrims atas supportnya :)
saya bisa merasakanya om :D
ReplyDeletemerasakan apa nih? merasakan getaran-getaran indah atau sebaLiknya? :D
DeleteOm Mundo datang lagi ni Om tapi belum sempat saling Kunjung kaya doeloe,Semangat Om ,,,
ReplyDeletetrims Mundo atas kunjungannya, sahabat Lama yang baru dipertemukan kembaLi. mudah-mudahan daLam waktu dekat kita bisa kumpuL-kumpuL Lagi seperti duLu, saya juga mohon maaf beLakangan ini aktivitas offLine Lagi agak padat.
Delete