Masuk Sekolah Goblok, Lulus Malah Idiot

Begitulah fenomena citra pelajar dan potret pendidikan di Indonesia, maka wajar jika mayoritas lulusan sekolah disegala tingkat pendidikan selalu kalah mutu dengan pelajar di negara tetangga. Apa sebabnya?

Pertama

Mereka bersekolah karena terlahir sebagai orang bodoh, supaya pintar maka berusaha makan bangku sekolahan. Tapi disambut dengan tradisi ketololan manusia. Dengan kata lain, dipelonco dengan dalih masa orientasi pengenalan lingkungan di tingkat sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas atau pada tingkat mahasiswa. Kita sebut saja masa orientasi peserta didik atau Ospek, anda bisa anda bayangkan sendiri bagaimana penampilan mereka dan suguhan acaranya, seperti apa bentuknya?

Tapi mau tidak mau, mereka wajib mengikuti rangkaian ritual terbodoh sedunia. Bahkan kadang ada nada ancaman jika tidak mau mengikuti ritual tersebut. Secara tidak langsung mereka dipaksa untuk bertingkah dungu, hak pelajar mereka dicabut oleh ketololan para seniornya. Bahkan diijinkan oleh tenaga pendidik mereka, atau mungkin guru cuma sekedar menunaikan profesi saja tapi jiwa mendidiknya tidak beda jauh dengan prilaku konyol anak-anak muridnya.

Kedua

Setelah dinyatakan lulus, saling bahu membahu untuk merayakan pesta kelulusan. Tapi tetap saja dengan budaya idiot. Tentu anda tahu atau bahkan pernah mengalami bagaimana rangkaian acara lulus-lulusan sekolah, lewat acara corat coret dan tingkah norak lainnya. Padahal setelah dinyatakan lulus, apakah dapat menjamin masa depan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi? Apakah bisa menjamin masa depan karirnya kelak di dunia kerja? Atau jangan-jangan, kini sudah jadi idiot sempurna sebagai pengangguran terdaftar?

Tapi lucunya, kedua sebab tersebut dilakukan secara bangga. Yang sama artinya, membanggakan tingkah tololnya.
  1. kalau masalah mos sih saya tidak terlalu mempermasalahkan
    karena diwaktu itu ada kenangan yang tak terlupakan selain itu hasil mos adalah mempunyai banyak teman.
    asalkan tidak keterlaluan apalagi kalau memberi sangsi dengan kontak fisik,saya kurang setuju kaya dendam tahunan aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. secara positif, saya juga setuju dengan pendapat Mas Awan. tapi faktanya, MOS atau OSPEK seringnya suka kebabLasan. bahkan kini tradisinya mirip dengan dendam warisan.

      Delete