Resep Jika Kebelet Kawin

Sesuai dengan yang sudah tersurat dan tersirat, biarpun jodoh sudah ditakdirkan tapi tetap saja itu adalah pilihan, berusaha mencari karena tidak akan datang dengan sendirinya. Kecuali jika diberikan keajaiban perjodohan kolot atau paling tidak akibat jodoh di tangan Hansip.

Biasanya, sebagian besar orang akan mencari calon pasangan berdasarkan persyaratan fisik. Bohong kalau katanya bukan sekedar memandang tampang dan sisi materil, kecuali kalau memang lagi krisis jodoh, benar-benar kepepet lagi kebelet kawin. Saya juga tidak munafik, jika cantik dikatakan relatif sedangkan jelek sudah pasti mutlak, maka wajar kalau kategori fisik umumnya menjadi nomer urut wahid dalam syarat pemilihan jodoh. Tapi apa jadinya kalau usia sudah mendekati uzur sementara jodoh tidak kunjung datang, ada apa dengan jodoh?

Sah-sah saja jika seseorang melakukan berbagai upaya dalam mencari pasangan, daftar kriteria sudah ditentukan dan terkonsepkan tapi kenyataannya sulit diraih. Rasanya itu bukan suatu aib tapi perlu direnungkan dan merubah haluan dalam proses usaha pencarian, maksudnya agak menggeser urutan kriteria, yang tadinya fisik merupakan syarat mutlak maka kiranya perlu dilenturkan untuk diturunkan beberapa poin. Cobalah bersikap rasional, kriteria fisik diposisikan sebagai pelengkap. Karena hal ini yang menjadi cermin atas masa depan hubungan cinta seseorang, tentang pandangan keseriusan seseorang dalam membina jalinan asmara untuk jangka panjang, tidak semata-mata menilai dari segi fisik.

Sudut rasional akan mengubah cara pandang seseorang. Hidung pesek bisa dipermak jadi mancung dengan cara tradisional sampai medis tanpa merubah atau merombak bentuk teknis, gigi model bemo bisa diratakan dan dibuat indah bahkan dipoles agar putih kinclong, kulit gelap bisa dicerahkan, bodi gendut atau kurus bisa dibentuk secara proporsional, rambut tipis bisa dilebatkan dan seterusnya. Pokoknya urusan kecantikan/ketampanan akan dapat dengan mudah di up grade.

Peran penting sosok pasangan adalah terletak pada fungsinya. Seorang wanita akan bertugas sebagai ibu atas anak-anaknya dan menjadi isteri yang turut bertanggung jawab mengendalikan rumah tangga mewakili suami. Misalnya mengurus urusan menyakut bidang intern di rumah, termasuk masalah kepengurusan anak-anak, hubungan dengan lingkungan sosial. Tugas pria adalah sebagaii pemimpin rumah tangga, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan sebagainya. Nah dilihat dari kacamata ini, belum tentu seseorang yang kurang cantik/tampan tidak mampu membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Begitu juga sebaliknya, kecantikan/ketampanan seseorang tidak menjamin kalau mereka dapat mewujudkan keharmonisan, keutuhan dan kekokohan bangunan rumah tangga.

Begitu juga dengan kriteria mengenai kemapanan seseorang. Pertimbangannya adalah terletak pada upaya mencari seseorang yang bisa memenuhi harapan sebuah hubungan untuk jangka panjang, tidak hanya terfokus pada sisi sempit penampilan. Misalnya, kondisi financial seseorang bisa saja berubah, yang tadinya menduduki jabatan strategis dan berpenghasilan tinggi tapi kemudian dipecat dari pekerjaan, setelah itu sulit untuk mengembalikan keadaan semula, berarti ia sudah tidak lagi memiliki kriteria yang diharapkan. Begitu pula penilaian terhadap kondisi fisik seseorang.

Kebanyakan, akibat sempitnya cara pandang maka seseorang tidak mau melihat gambaran jangka panjang, maka inilah yang menjadi kekeliruan seseorang dalam menentukan jodohnya. Terlalu cepat memutuskan dan cepat putus asa, itu karena atribut fisik sudah menutupi kemampuan seseorang dalam menciptakan kebahagiaan untuk bersama. Ketika ingin mengupas pribadi seseorang maka lakukan seperti mengupas bawang, lapis demi lapis dibuka sampai akhirnya mengetahui apa yang anda butuhkan darinya. Agaka lama, terasa perih dan pedas memang, bahkan kadang perlu mencucurkan air mata tapi terasa nikmat saat tersaji di meja makan.

Menilai Tingkat Keseriusan

Untuk mengetahui sifat dasar seseorang memerlukan waktu cukup panjang, jika memang seseorangmemiliki sikap serius terhadap anda tentunya tidak ada istilah jaim, bersikap seolah menutup-nutupi suatu kekurangan pada dirinya. Dalam jangka pendek memang belum terasa, tetapi secara jangka panjang akan terbongkar juga warna aslinya. Perhatikan mulai dari sikap atau cara memanggil, cara menatap, ketika mengalami masalah, saat berbagi kebahagiaan, frekuensi perhatian maupun mengungkap kata-kata rayuan. Kalau selalu menampilkan kelebihan seolah ia tidak memiliki kekurangan maka perlu diwaspadai , jangan-jangan beliau tipe gombal mukio.

Fungsi menjalin kerjasama asmara adalah saling melengkapi, diawali dari mana seseorang mulai mencintai?

Kecantikan/ketampanan memang menjadi salah satu penilaian tapi hanya sebatas persepsi relatif, bukan selamanya mengharuskan seseorang agar selalu berpenampilan cantik. Di samping itu, sejauh mana si dia melibatkan anda dalam membantu persoalan tertentu yang sedang dihadapinya. Karena tidak selamanya waktu pacaran diisi oleh kesenangan, ada kalanya saling berbagi dalam memecahkan permasalahan maupun sebagai tempat mengungkap kesedihan, saling berbagi kasih dan mengasihi.

Sejauh mana anda diperkenalkan dengan lingkungan sosialnya, dari pergaulan pertemanan sampai pada memperkenalkan kepada pihak keluarga. Begitupun sebaliknya?

Secara dewasa. Seorang wanita yang kunjungi oleh priamerupakan hal biasa, tapi bagi seorang pria secara normal bila ia sudah memperkenalkan anda kepada keluarganya berarti salah satu respon positif tentang sebuah keseriusan hubungan. Hal itu adalah sikap pengakuan bahwa, anda nantinya akan menjadi bagian dari keluarga mereka, begitu pula anda akan bersikap demikian bukan?

Makna keseriusan sangatlah luas, dalam pemikiran sempit disampaikan seperti di atas. Walaupun selama ini merasa hubungan anda baik-baik saja, namun bukan berarti tidak akan ada permasalahan dikemudian hari. Ditilik lebih jauh, sebelum mengarah kepada tingkat keseriusan hubungan ada baiknya terlebih dulu sudah merasa adanya kecocokan. Intinya barat masakan, ada kalanya terasa agak pedas, asin, manis atau gurih dirasakan bersama pada balutan kasih dan sayang. Memahami masing-masing kekurangan dan tidak menunjukkan kelebihan, saling melengkapi.

Menetapkan Tujuan

Tujuan dari pacaran adalah untuk saling mengenal lebih dalam tetapi bukan berarti juga harus mengenal dalemannya. Harus tetap saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya antara mengajukan penyampaian rasa cinta, penerimaan, juga ketika dihadapkan oleh sikap menolak atau ditolak. Satu sama lain harus saling menerima konsekuensi resiko dari kenyataan.

Sehingga buatlah komitmen terhadap tujuan dari janji pacaran, dimana janji tersebut harus disadari adalah komitmen kepada Tuhan. Koridor agama dapat dijadikan sebagai batasan prilaku, bersikap wajar dalam tahap berpacaran, juga sebagai sikap menghargai dalam menjaga kehormatan pasangan.

Penggabungan dua sifat untuk menghasilkan persamaan, buka perbedaan, sehingga tercipta persepsi kesepahaman dalam cara pandang, jadi akan terjalin komunikasi yang nyambung. Sikap mengalah bukan berarti kalah, namun karena wujud cinta kasih yang diharapkan akan terciptanya sebuah pengertian, maka hindarilah sikap egoistis. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga jadikan masing-masing kemampuan untuk saling melengkapi. Transparan terhadap kekurangan masing-masing, termasuk juga kejujuran ketika sedang dihadapkan oleh masalah keuangan, memang uang bukan segala-galanya tapi segalanya membutuhkan uang. Misalnya kalau bokin ngajakin nonton tapi lagi cekak, mengaku saja biar tidak ada kesalahpahaman dikemudian hari.

Luangkan waktu untuk saling berintrospeksi, gunakan komunikasi dari hati-kehati mengenai kanyamanan hubungan tersebut. Tetapi, jangan mengungkapnya dari dalam hati yang paling dengki (bisa berantem tuh). Saat terjadi pertengkaran maka jangan mengungkit-ungkit keburukan masa lalu, yang sudah berlalu adalah pengalaman buruk untuk perbaikan dimasa datang.

Seimbangkan waktu aktivitas dengan waktu pacaran, jangan sampai dengan berpacaran justru akan mengganggu aktivitas anda sebagai modal masa depan secara financial. Begitupun sebaliknya.

Musuh besar yang sebenarnya adalah diri sendiri, jadi persiapkan pribadi dengan bijak agar tidak selalu terjadi pertengkaran, misalnya karena perasaan jealous yang membutakan. Maka ciptakan sikap keceriaan, pasangan adalah sebagai teman untuk menghibur bukan sebagai teman yang justru nyusahin, sesekali curhat tidak malah yang penting jangan keseringan mengeluh.

Dari kesemua itu maka disimpulkan, nantinya setelah berumah tangga harus konsekuen dengan janji yang telah diucapkan pada akad nikah. Untuk itu, sebelum melangkah ke jenjang pernikahan sebaiknya dipikirkan dengan matang. Upayakan menikah hanya sekali seumur hidup, bagi kaum pria jangan lupa untuk menghindari poligami, apalagi wanita jangan sampai melakukan poliandri. Kalau ke poliklinik tidak apa-apa untuk beli obat kuat, maksudnya obat kuat makan.