Ibarat pak tani sedang menggarap sawah, ia harus menentukan batas lahan garapan agar tidak melebar kemana-mana, apalagi sampai nyerobot tanah milik orang lain. Seperti menulis skripsi, memberi sub judul sebagai pembatas masalah, maka kira-kira seperti itulah gambaran jika menulis gagasan yang dikemukakan secara panjang kali lebar. Biasanya ketika inspirasi sedang lancar jaya, maka kadang meluncurkan ide tulisan terasa mudah sampai tuntas bahkan seringkali menulis seperti orang lagi kesetanan, nyambung terus seolah tidak ada jeda. Nah, jika memang maksud dan arah gagasan anda terlalu merebak sulit dibendung, maka wajib dipersempit supaya legit dibaca atau dipenggal menjadi beberapa bagian agar pembaca tidak merasa kelelahan.
Seperti dulu waktu masih sekolah, saat guru pelajaran bahasa Indonsesia yang super cerewet memberikan tugas membuat kerangka karangan. Nah, hal tersebut bisa menjadi pengalaman berharga untuk diterapkan di dunia tulis menulis artikel, bertujuan untuk menyelamatkan fokus gagasan dan ringkas dalam mengurai gagasab, tetapi memiliki kedalaman wawasan yang memadai. Ibarat compass yang akan menuntun penulis pada arah tulisan. Sama artinya ketika memotong tulisan menjadi beberapa sub judul, dipetak-petak bagaikan episode sinetron atau film berseri. Dengan menggunakan kerangka karangan seperti itu, anda dapat mengembangkan pembahasan menjadi lebih jelas lagi secara rinci.
Sesuai pengalaman saya, setelah proses pemotongan artikel yang panjang dan mengedit satu persatu, justru kerap terlintas ide baru untuk menambahkan isi dari tiap-tiap sub judul tersebut. Sehingga masing-masing sub judul justru mendapat energi tambahan, jadi ide tulisan yang tadi telah dibahas pada sub judul sebelumnya bisa diurai lebih luas di sub judul berikutnya. Masing-masing sub judul mempunyai session khusus, agar pembahasan tidak membias kemana-mana.
kaya dodol aja ya kang tulisan juga harus legit ternyata, kalo saya waktu sekolah disuruh nulis karangan ga pernah bisa, tapi kalo sekarang mah kayanya bisa deh kang, soalnya dulu juga tak terpikirkan bakalan jadi blogger.heuheu
ReplyDeleteitu mah kudu, kaLo rasanya pahit mah kasihan yang baca.
Deleteberarti kaLo gitu mah gurunya kecepatan ngasih materinya, kudunya mah sekarang-sekarang ini baru dipeLajari. atau kita yang kebaLik, kudunya mah sekoLahnya baru sekarang-sekarang ini seteLah jadi bLogger? :D
kayanya saya yang harus kembali sekolah kang, nanti mau deh ngambil jurusan sastra biar makin legit tulisannya :)
Deletejangan Lupa, ambiLnya sastra jawa ya :D
DeleteIbarat orang cerewet y mas klo ngomong/ cerita bisa sampai kemana-mana A-Z apalagi ditemenin kopi sama rokok ... Agar tidak kemana-mana yg perlu dibuang adalah kopi dan rokoknya, saya jamin jadi garing trs ending, hahahaha
ReplyDeletehahahaha.., keren juga tuh anaLoginya :D
Delete