Menurut saya; Karena rata-rata cara berpikir mereka masih tolol! Padahal secara sadar cuma butuh sebuah kalimat cerdas perubah kehidupan agar lebih baik, tanpa gombal mukio sugesti cerewet. Intinya, jika nasibmu tak pernah berubah maka ubahlah sikapmu.
Tetapi klaim di atas jika dilihat dari kacamata sang pakar hypnosis mengatakan, bahwa; Sikap yang terlalu sibuk mengkoreksi orang lain tapi sayangnya tidak terlalu sibuk mengkoreksi dirinya sendiri, itu pertanda sebuah tanda pemikiran yang masih terhipnotis oleh orang lain. Jadi sibuklah mengkoreksi diri dan pikiran diri sendiri.
Melihat kedua pemikiran di atas tentu saja berbanding terbalik, karena dalam persepsi seorang penulis berkata; "Menulis adalah sebuah penelitian, koreksi sosial maupun alam sekitar sebagai bahan introspeksi yang disampaikan kepada khalayak". Artinya, jika ingin menjadi penulis yang baik maka harus rajin meneliti (apapun) dan kritis, menghubungkan sains secara otentik berdasarkan cara pandang objektif karena ada koreksi praktek maupun referensi pembanding. Bukan semata-mata "ilmu modul training sugesti" yang berdasarkan proses transfer sugesti atau pemberian nasihat satu arah, jika subyek adalah seseorang kritis maka metode sugesti akan terancam gagal.
Karena pada dasarnya, hipnosis adalah adalah metode yang mempelajari bagaimana dapat berkomunikasi (verbal) dengan efektif kepada orang lain, supaya bisa langsung diterima oleh pikiran bawah sadar mereka tanpa ada suatu resistensi yang berarti. Sedangkan hipnotis, yakni suatu keadaan seseorang di mana secara rela di bawah kendali seorang ahli untuk mendapatkan suatu perubahan tertentu dalam dirinya (misalnya dalam bentuk sugesti), sementara hipnoterapi menunjuk pada bidang pekerjaan yang dilakukan seorang ahli hipnotis. Mengingat kedua kata tersebut agak sulit dibedakan sehingga seringkali digunakan untuk menunjuk pada realitas yang sama.
Baru-baru ini trend hipnosis untuk terapi penyakit, merubah kebiasaan buruk, meningkatkan motivasi dan sebagainya begitu familiar di telinga kita. Juga tidak ketinggalan dibuka berbagai training center dan workshop untuk menjadi seorang hipnoterapis. Tidak jarang hal ini justru memicu pada pengetahuan hipnosis secara setengah-setengah, tahu dari seminar atau training singkat saja dan tidak terus mendalaminya kemudian mengambil kesimpulan seolah sudah memahami isi dari hipnosis. Dengan menjamurnya seminar hipnosis yang murah meriah dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dikhawatirkan hal itu malah semakin memperparah level ketidaktahuan masyarakat.
Misalnya. Ada suatu pihak penyelenggara mendirikan pelatihan hipnosis, sang trainer sebagai ujung tombak promosi dalam merekrut peserta pelatihan, sedangkan mereka yang sudah terpesona pada paket training praktis dan kilat tentunya tertarik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan secara instan. Dengan kata lain, suatu pengetahuan ibarat pisau bedah, jika berada di tangan tangan seorang professional atau yang ahli dibidangnya maka dapat dipergunakan menjadi baik, namun bila digenggam oleh tangan penjahat maka wawasan tersebut menjadi jahat pula. Sejauh mana pertanggungjawaban seorang trainer tentang pengaplikasian metode pengetahuan tersebut nantinya?
Dalam satu sisi yang berbeda, ada hal yang perlu diperhatian. Bahwa, metode hipnosis memang patut diakui dapat membantu orang lain sesuai dengan masalah yang sedang dihadapinya, namun hal itu belum mutlak bagi semua orang. Tidak dapat dipandang oleh sebelah mata, merupakan realita yang mengandung resiko, tidak mustahil di dalamnya sarat akan penyimpangan dan pada akhirnya menjadi pintu masuk bagi berbagai tindakan kriminal.
Akan tetapi, apa jadinya jika peserta training mencoba kritis atas sugesti trainer?
Logikanya begini, bahwa peserta yang nurut mengikuti segala perkataan trainer tanpa membantah sedikit pun adalah seorang calon hipnoterapis yang baik, karena pikiran yang diarahkan hanya pada satu instrumen maka secara tidak sadar sama artinya telah mengikuti irama sugesti yang dimainkan oleh trainer. Saat proses belajar harus mendengarkan sugesti trainer saja, jangan banyak berfikir dan jangan melawan sugesti. Pemaknaannya, seolah-olah orang yang tidak mau mengikuti perkataan trainer bukanlah calon hipnoterapis yang baik. Sehingga, apakah tetap efektif jika sugesti hipnosis diberikan kepada manusia yang dominan berpikir pada otak kiri, mereka kuat dalam berlogika dan kritis?
Nah, disitulah kenapa antara dunia tulis menulis dengan metode hipnotis jarang sekali akur, karena mereka memiliki dua arah pandangan berbeda. Sebab menurut kacamata seorang penulis , wajar jika seorang penulis mudah terhipnotis dengan sesuatu hal yang menarik dan kemudian dikembangkan secara lebih luas, karena memang disitulah fungsi obsesi sebagai gudangnya inspirasi. Sebab jika seorang penulis tidak pernah terhipnotis dengan suatu kerangka masalah, itu namanya tidak fokus dalam mengungkap materi. Yang lucu adalah ketika suatu gagasan seorang penulis pemula tapi sanggup menghipnotis seorang master hipnoterapi.
Pesan saya. Maka buatlah sebuah tulisan yang menarik supaya siapapun pembacanya jadi terhipnotis oleh sugesti karya-karya anda. Jika setiap orang berani menulis dan berkata apa adanya maka tidak ada satu pun gaya pemikiran bermotif ceramah, sebuah ungkapan berupa nasehat gombal mukio. Baik itu sugesti moral maupun khotbah kepribadian, karena style seperti itu bagaikan sikap seseorang baru terbangun dari tidur yang berusaha menghias diri untuk menyambut tamu. Terlalu sibuk memamerkan perbuatan baik, tapi jadi kerepotan menyembunyikan dan memoles segala keburukan.
Gimana caranya membuat artikel yang mengandung unsur hipnotis?
Secara lengkap, tidak dibahas di sini. Karena pernah diulas oleh tulisan terdahulu; "3 Modus Hipnotis Online Terbaru".
Antara metode hipnosis dan karya seorang penulis dapat dikatakan sama-sama seni komunikasi. Perbedaannya, jika metode hipnosis memberikan sugesti melalui alam bawah sadar seseorang lewat perkataan yang bisa dimengerti oleh subyek, sedangkan tulisan merupakan karya dunia menulis yang juga bisa dinikmati dan dipahami oleh pembaca. Kedua jenis subyek ini tinggal memilih, mana yang lebih mengena untuk masuk ke dalam nalarnya?
Dilihat dari kacamata seorang hipnoterapis tentu saja bidang mereka tentunya diperlukan seseorang yang jago ngomong untuk meyakinkan klien maupun pendengar disekitarnya walaupun belum tentu mendalami secara sains. Sedangkan dalam pandangan seorang penulis, harus lebih menjiwai apa yang diungkap ke dalam tulisan yang dimana hal ini harus benar-benar menguasai setiap gagasan yang dibahasnya. Karena jika hanya pandai nulis namun tidak mampu mengungkapkan suatu topik secara sains dan ilmiah, itu sama saja mempertontonkan kegoblokan seorang penulis.
Alih-alih seorang hipnoterapis kadang pula menelurkan buku tentang wawasan dibidangnya, memberikan sugesti-sugesti maupun tutorial hipnosis lewat dunia menulis. Nah, coba bandingkan daya serapnya, lebih luas mana antara hipnosis secara lisan atau lewat tulisan?
Membaca adalah mencerna, memaknai secara sadar sampai menembus ke lubuk hati yang terpalung, antara pikiran dan naluri saling bersinergi mencari tahu apa yang belum dipahami. Sedangkan sugesti hipnoterapis berdasarkan jam tayang kadaluarsa, kelegaan yang sementara, ada waktu dimana secara pikiran terbawa arus sugesti namun jiwanya menolak. Terjadi tolak belakang sinkronisasi. Mengajak alam bawah sadar seseorang seperti kerbau dicucuk hidungnya, bagaikan kapas yang terbang terbawa angin tanpa memberi kesempatan subyek untuk sejenak menimbang dengan akal sehatnya. Berbeda artinya dengan keadaan segenap jiwa yang memahami secara sadar, kapanpun dan dimanapun serta dalam keadaan bagaimanapun dia akan berintrospeksi akibal bekal yang tertanam pada dirinya. Psikologis seseorang yang gemar belajar maupun pandai memposisikan diri.
Saya tidak mengatakan, bahwa pakar hipnoterapi itu bodoh sedangkan seorang penulis pasti cerdas. Namun dilihat dari kedua fenomena ini, saya lebih memilih seorang yang mahir menulis dan pandai membaca dari pada master hipnosis yang rata-rata cuma berbekal asal nyablak lewat sebait sugesti suci di update dari modul training. Sebab bagaimanapun, memory otak seseorang normal tidak akan mampu menyimpan maupun menghafal jutaan kalimat sugesti yang disampaikan atau diberikan tanpa mereka mengerti inti sarinya.