Romantika Nafas Cinta Rumah Tangga

Mumpung lagi bulan-bulannya musim resepsi pernikahan, saya jadi ikutan kebelet hayang kawin, suka iri juga sih kalau lihat aki-aki butut tapi pas lagi kondangan digandeng sama selir-selir muda. Apalagi kalau dengar ada teman yang sudah nikah berkali-kali, bikin keki ngerasa kesalip. Tapi apa tujuan seseorang melaksanakan pernikahan? Konsep rumah tangga seperti apa yang dapat menciptakan kerukunan, bersabar dan berusaha mencarikan solusi jika terjadi suatu permasalahan mendasar maupun besar.

Bermacam problematika di rumah tangga kerap melunturkan keteguhan hati seseorang untuk berpindah ke lain hati, sekian lama usia pernikahan justru kandas di tengah jalan. Sebelum kesemuanya terjadi, ada baiknya membentuk strategi dalam memperkuat jalinan kasih sayang di dalam setiap situasi dan kondisi. Bagai aliran air yang membentur kerikil dan batu tapi tetap terus bergerak walau sesekali harus berbelok arah sejenak, menelusuri liku jalan sampai berhenti di muara, kemudian mengarungi hamparan luas samudera biru.

Secara dogmatis, kehidupan rumah tangga adalah bagian dari konteks menegakan syariat, suami dan isteri harus saling melengkapi, membangun kerjasama rumah tangga yang harmonis menuju derajat takwa. Sejalan dengan itu dibutuhkan relasi yang jelas antara suami dan isteri, tidak bisa disamaratakan tugas maupun kewenangannya. Suami berhak menuntut hak-haknya, seperti dilayani isteri dengan baik. Sebaliknya, suami memiliki kewajiban untuk mendidik isteri dan anak-anaknya, memberi kelayakan nafkah dan memperlakukan mereka secara baik.

Kedua belah pihak harus saling memperoleh hak dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan kebutuhan maupun kemampuan masing-masing, tidak ada pihak yang merasa memaksakan kehendak dan dipaksakan, tapi dilakukan secara maksimal. Bersikap adil dan bijak dalam pengaturan tugas, memelihara keutuhan rumah tangga. Setiap permasalahan bisa diselesaikan dengan komunikasi, terbuka, dan demokratis. Maka perlu diperhatikan tentang penalaran filosofi bahasa cinta.

Jika masing-masing pihak menyadari perannya serta melaksanakan hak dan kewajiban, niscaya tidak lagi terdengar kekerasan maupun kalimat kasar dalam menyelaraskan perjalanan biduk rumah tangga. Prilaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terhindarkan karena bangunan rumah tangga didirikan dengan pondasi sosialis, dikemudikan dengan kasih sayang dan diarahkan oleh peta moralitas.

Sehingga paduan kecerdasan emosi menjadi faktor terikat dalam saling memahami dan saling melengkapi, objektif ketika sedang dilanda permasalahan, saling introspeksi dan memikirkan langkah jangka panjang. Sikap subjektif diperlukan saat sedang bermesraan karena kasih sayang melibatkan unsur perasaan, sedangkan penyelesaian masalah lebih mengutamakan rasionalitas, sebab permasalahan kecil bisa menjadi besar jika tolok ukurnya berlabel perasaan. Maka, tinggal membangun cara komunikasi efektif dan evaluasi pada setiap permasalahan yang telah terselesaikan, sebagai media pengingat agar jangan sampai kasus serupa terjadi lagi di kemudian hari.

Seberapa pun besarnya kekuatan hubungan pernikahan, tapi jika kedua belah pihak tidak mawas diri maka permasalahan yang telah lewat bagaikan duri dalam daging, efeknya suatu ganjalan memungkinkan untuk diungkit-ungkit kembali dikemudian hari, akhirnya saling menyalahkan. Disinilah perlunya sikap dewasa, mengenai usia bukan jaminan tetapi cara pandang yang dapat menyatukan kedua pemikiran berbeda menjadi satu tujuan. Nah, berarti jika ada pihak yang tidak menyukai sesuatu hal hendaknya melakukan klarifikasi secara komunikatif, menjalin sebuah komunikasi rasional yang seimbang dengan perasaan agar tidak ada yang merasa dipaksa dan disakiti perasaannya.
  1. Duhh baca ini.
    aku yang jomblo menahun ni apa lah...
    wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga status jombLonya cepat sembuh yaaa :D

      Delete
  2. Wadaw kapan kawin, kapan kawin
    Lulus aja belum, nampar diri sendiri wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. padahaL mah kaLo mau kawin nggak ada persyaratan harus LuLus kuLiah duLu Lho :D

      Delete
  3. sepengalaman saya mah kalo sudah menikah yang utama bukan lagi cinta kang tapi ekonomi :D
    kalo lagi bobogohan mah cinta dijunjung tinggi aku sayang kamu apa adanya, kata itu bulshit banget apa cewe mau makan cinta?da moal wareug atuh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti kaLo kondisi ekonominya bagus maka jenjang cintanya juga tinggi ya Kang :D

      Delete
    2. tah kebanyakan teh seperti itu, makanya harus hati-hati dalam memilih calon sehidup semati teh kang :D

      Delete
    3. kaLo Lagi nyebrang jaLan sama pasangan juga kudu hati-hati Kang, si Neng di tangkeupan terus bisi Lesot :D

      Delete
  4. kalo soal gini ,,, nyerah dech :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. payah nih Mas Irwin, kaLah sebeLum perang :D

      Delete
  5. Jikalau sudah saling mawas diri sepertinya setiap masalah akan berujung dengan dendam damai :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan akhirnya, damai itu indah :D

      Delete
    2. tetap tidak indah jikalau sedang ditilang mah kang :D

      Delete
    3. hehehehe.. itu mah perdamaian membawa petaka :D

      Delete