Menulis dapat dideskripsikan sebagai kemampuan dalam mengendalikan pemikiran, yang kemudian ditata menjadi ribuan kalimat berstruktur. Karya dari proses ekspresi dan kreatifitas. Menulis dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa talenta maupun menggali bakat terpendam, modal satu-satunya adalah punya semangat. Tapi kenyataannya, kenapa jarang yang suka membaca atau menulis.
Karena kebanyakan cara berpikir mereka masih dungu, kerangka pemikirannya berantakan. Subyektif, sepenuhnya masih dikendalikan oleh hati. Maka jangan heran jika mereka lebih suka koar-koar ngomel dari pada mengubur gejolak perasaan, mereka jarang sekali mau belajar dari sejarah masa lalu untuk menyongsong hari depan dengan senyuman. Sehingga mereka agak sulit menerima inspirasi, bahkan seringkali gagal menangkap gagasan, ketika merangkai kata kerap mengalami kebuntuan, mesin inspirasi mendadak mogok di tengah jalan.
Sebenarnya. aktivitas menulis merupakan salah satu proses belajar membebaskan pikiran maupun pereda jeritan batin, menggalang ekspresi imajiner. Tapi karena selalu digentayangi oleh hantu pura-pura. Pura-pura bijak, pura-pura menasehati, pura-pura dewasa dan pura-pura seterusnya yang tentu anda juga pernah melakukannya. Maka terciptalah orasi jiwa yang mirip pidato kampanye partai politik, dari tahun ke tahun isinya ya begitu-begitu saja. Pengemukaan elementer bahasa jadi tumpul. Keras tapi getas, gampang patah, sering belok arah dan akibatnya pembeberan ulasan jadi melenceng kemana-mana.
Karena itulah sering terlihat atmosfir tulisan yang pucat pasi tanpa roh. Wajahnya datar tanpa tumpah darah ekspresi, arwahnya sebatas melayang di antara langit dan bumi, imajinasi terbang rendah tapi tidak menjejak bumi. Kehilangan energi, hampa gagasan dan cara penyajian yang kaku, sedangkan yang dibutuhkan adalah keluwesan dalam penyampaian dan lugas dalam menyoroti masalah. Tulisan yang baik tidak bermaksud mengajak tapi akan menghasut pembaca. Mudah dicerna. Agar terasa lentur, penggunaan bahasa berjenis kelamin apa adanya, kadang taat EYD tapi suka juga nyeleneh pakai dialog sehari-hari. Bebas, asalkan tidak melanggar butir-butir Pancasila dan pasal yang terkandung di dalam UUD '45.
Dengan kata lain. Apapun suguhan gagasan dan bagaimanapun cara penyampaiannya, yang penting gurih di mata pembaca. Radiasinya memancar di seputar kepala. Tetapi sebesar apapun gagasan di dalamnya dan secanggih apapun metode penulisannya, namun tetap saja jika tidak bisa dinikmati akan terasa menyebalkan, malah bikin gondok. Maka sensor otak langsung merespon saraf motorik, kemudian menggerakan otot mulut melontarkan kata mutiara caci maki.
Tapi kenapa banyak pembaca yang menyukai karya-karya saya, mungkin juga termasuk anda yang mulai tergila-gila pada tulisan saya dan akhirnya mengumpat bahwa sudah benar-benar gila?
Bukan karena saya yang kege-eran atau sengaja menebak-nebak tentang kedalaman perasaan anda terhadap saya, tapi itu memang karena mental anda sudah bebas terbuka. Malas dengan topeng pencitraan, muak dengan segala lipstick sosial, masa bodoh dengan stempel penghormatan, tidak haus elusan personal, tidak ambisi dengan segala puja puji kemuliaan, tidak peduli dengan ijazah kharismatik. Sama seperti saya, kita sama-sama tidak suka bersikap pura-pura. Karena standar yang digunakan adalah sebuah label obyektif.
Artinya. Opini yang saya tulis bukan atas dasar suka atau tidak suka ketika memandang sesuatu hal, bukan penjual kecap dakwah, bukan sebuah puja puji subyektif, bukan pula sambitan caci maki dari lubuk hati paling dengki. Tapi sebuah penalaran realistis tanpa bersembunyi dibalik panggung sosial. Begitu juga anda. Jika tidak tertarik akan diam saja, langsung tutup tab dan berlalu. Tanpa menyimpan rasa suka atau tidak suka kepada penulisnya. Karena saya pun begitu, EGP dengan respon pembaca.
Dengan kata lain, karya anda akan semakin produktif jika mengambaikan rem kharismatik. Berbicara sebagaimana adanya secara otentik. Begitu pula dengan pembacanya, jika mereka bersikap netral maka tidak akan menciptakan sebuah kebencian personal. Tetapi yang dinilai adalah standar kualitas gagasan dan kemampuan seorang penulis dalam berargumentasi, apakah otentifikasi opini tersebut memiliki celah untuk dipertanyakan atau atas pengemukaan berdasarkan segudang wawasan dari bermacam sudut pandang?
Intinya. Kira-kira seperti itulah beberapa sebab jika merasa kesulitan dalam menuangkan bentuk-bentuk gagasan, berbeda dengan saya yang seolah menulis semudah melangkahkan kedua ujung jari tangan di atas papan ketik. Dan mungkin inilah gaya menulis terbaru yang belum pernah anda coba.
Tapi kenapa banyak pembaca yang menyukai karya-karya saya, mungkin juga termasuk anda yang mulai tergila-gila pada tulisan saya dan akhirnya mengumpat bahwa sudah benar-benar gila?
Bukan karena saya yang kege-eran atau sengaja menebak-nebak tentang kedalaman perasaan anda terhadap saya, tapi itu memang karena mental anda sudah bebas terbuka. Malas dengan topeng pencitraan, muak dengan segala lipstick sosial, masa bodoh dengan stempel penghormatan, tidak haus elusan personal, tidak ambisi dengan segala puja puji kemuliaan, tidak peduli dengan ijazah kharismatik. Sama seperti saya, kita sama-sama tidak suka bersikap pura-pura. Karena standar yang digunakan adalah sebuah label obyektif.
Artinya. Opini yang saya tulis bukan atas dasar suka atau tidak suka ketika memandang sesuatu hal, bukan penjual kecap dakwah, bukan sebuah puja puji subyektif, bukan pula sambitan caci maki dari lubuk hati paling dengki. Tapi sebuah penalaran realistis tanpa bersembunyi dibalik panggung sosial. Begitu juga anda. Jika tidak tertarik akan diam saja, langsung tutup tab dan berlalu. Tanpa menyimpan rasa suka atau tidak suka kepada penulisnya. Karena saya pun begitu, EGP dengan respon pembaca.
Dengan kata lain, karya anda akan semakin produktif jika mengambaikan rem kharismatik. Berbicara sebagaimana adanya secara otentik. Begitu pula dengan pembacanya, jika mereka bersikap netral maka tidak akan menciptakan sebuah kebencian personal. Tetapi yang dinilai adalah standar kualitas gagasan dan kemampuan seorang penulis dalam berargumentasi, apakah otentifikasi opini tersebut memiliki celah untuk dipertanyakan atau atas pengemukaan berdasarkan segudang wawasan dari bermacam sudut pandang?
Intinya. Kira-kira seperti itulah beberapa sebab jika merasa kesulitan dalam menuangkan bentuk-bentuk gagasan, berbeda dengan saya yang seolah menulis semudah melangkahkan kedua ujung jari tangan di atas papan ketik. Dan mungkin inilah gaya menulis terbaru yang belum pernah anda coba.
penulisan artikel ini menggunakan gaya bahasa yang jarang saya temukan,,, :D
ReplyDeletekebetuLan memang ini adaLah rumusan baru di dunia tuLis menuLis, mungkin tahun depan gaya menuLis artikeL yang seperti ini akan jadi trending topic. itu kaLo ada yang mau mempoLemikannya :D
Deleteyang penting gurih aja tulisan nya ya kang, kayanya mah kurang uyah dikit sih.heuheu
ReplyDeletejadi Lebih enak dan Legit kaLo dipadu sama bumbu-bumbu spesiaL Lainnya :D
Deletekalo saya mah lagi suka-sukanya nulis, tapi kayanya rada kurang diimbangi dengan blogwalking nih.cuman jurus saya tetap dikeluarkan 1 artikel sehari atau 1 artikel 2 hari, agar kalo males nulis bisa menerbitkan artikel yang sudah dipeuiyeum sampai asak.hehehe
ReplyDeleteLagi ngatur-ngatur frekuensi postingan ya Kang, biar Lebih teratur dan terkendaLi. mantap deh! moga-moga nuLisnya tambah Lancar jaya aja.
DeleteAku juga ngeblog apa adanya
ReplyDeletejadi syukurlah rasnaya gampang-gampang aja hahaa
kaLo nuLis suatu gagasan secara apa adanya, nuLis terasa mudah ya :)
DeleteWkwkw orang males nulis itu biasanya karena males baca. Orang yang rajin baca biasanya punya keinginan buat nulis juga. :D
ReplyDeletekarena Ladang inspirasi adanya dari media bacaan :D
Delete