Apakah Tulus dalam Mencintai Pasangan?

Terlalu dini membicarakan ketulusan jika sudut otentinya berdasarkan fisik dan penampilan, walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa munculnya rasa suka berawal dari penilaian fisik. Tetapi di balik kecantikan/ketampanan fisik, masih ada penilaian yang lebih objektif. Menjadi poin penting yang melekat pada diri seseorang, sarana penunjang dalam menjaga kelanggengan hubungan asmara, akhirnya dapat saling ingin memiliki dengan perasaan seutuhnya. Kemudian berpandangan, bahwa ermasalahan fisik tidak menjadi soal, fungsinya hanya sebagai pelengkap. Jika menggunakan rasionalitas, tentu setiap orang ingin mendapatkan seseorang yang cantik atau tampan. Tapi tentunya ada pertimbangan lain, kecuali sekedar untuk teman bersenang-senang.

Karena rasa cinta, sesuatu yang buruk akan tampak indah. Sedangkan dengan pemikiran kebencian akan menilai sesuatu yang baik sekalipun menjadi terlihat buruk. Ini merupakan cermin visual antara menyambut dengan menyambit. Rasa simpatik ketika melihat suatu keindahan, boleh saja diungkapkan dan semua orang pun akan menyukai hal tersebut, tetapi jangan mudah terlena oleh sesuatu yang berbentuk indah. Akan lebih bijak apabila mau menimbang kembali, kenapa menyukai? Hal apa yang membuat saya jadi terpesona?

Dan sebaliknya. Apa yang ia harapkan dari sosok saya? Apakah ia juga satu tujuan, berharap sesuatu seperti yang saya inginkan?

Jika ingin mengetahui isi, maka kupas terlebih dahulu kulitnya. Cermati satu persatu. Bungkus yang baik, bukan berarti mencerminkan kualitas isi. Tetapi sebaliknya, jika memiliki isi yang bagus maka pancaran kharismatinya akan tercium sampai menembus kulit paling luar, mudah dirasakan oleh orang lain. Mampu meng-upgrade kuantitas yang tadinya buruk menjadi lebih baik. Bagian isi adalah kunci dari kualitas kepribadian seseorang. Begitu pula dalam memutuskan ketika memilih seseorang yang pantas untuk dicintai dan dimiliki.

Apakah mencintai orang yang tepat dengan cara yang salah? Atau memang telah salah dalam mencintai seseorang?