Dipuji Mark Zuckerberg tapi Dikutuk Majelis Taklim

Apakah anda adalah salah seorang penggila facebook, yang setiap saat hampir selalu nongkrong di jejaring sosial ini? Adakah cara untuk tetap online tapi sekaligus beribadah dan berdoa? Jadi serba salah bukan, mau beribadah tapi tidak ingin segera meninggalkan aktivitas facebok?

Belakangan ini Tuhan sudah tidak lagi berada di hati tiap manusia, melainkan sudah digusur paksa oleh sebagian oknum pengguna sosial media. Tapi sekarang tidak perlu bingung-bingung lagi mencari keberadaan Tuhan, sebab rata-rata facebooker Indonesia hebat, mereka mampu menemukan alamat Tuhan. Karena perkembangan jaman yang semakin modern, maka Tuhan juga sudah berpindah domisili, kini berlokasi di facebookdotcom. Sangat mudah ditemui, setidaknya sebagian besar dalam tiap beranda facebook selalu ada kemunculan Tuhan. Dan sekarang fungsi Tuhan juga sudah berubah total, sebagai tempat untuk ngomel.

Kenapa Tuhan bisa berpindah tempat dan beralih fungsi?

Itulah hasil wawancara, bagaimana proses penemuan alamat Tuhan itu bisa terjadi. Sekaligus memberikan piagam penghargaan kepada facebooker yang salah minum ideologi. Semua itu karena ulah para facebooker yang telah memindah paksa Tuhan, mengalokasikan di facebookdotcom. Bahkan, juga sebagai pusat berita, bahwa sedang melakukan ibadah. Misalnya lagi sholat, sedang puasa, mau tarawih, habis tadarus, bayar zakat, bersedekah, umroh dan lain-lain. Kemudian juga, tempat penyampaian doa.

Nah, apakah ibadah dan doa yang demikian bisa dianggap sah dan doanya dikabulkan?

Untuk menjawab pertanyaan itu masih di luar kapasitas saya, masih cetek pemahaman. Sebaiknya tanyakan saja langsung kepada 4 orang pendiri facebook. Misalnya; Mark Zuckerberg, Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin, Sean Parker. Atau kepada Tuhan facebook yang selama ini sudah disembah-sembah. Sehingga tidak jarang hal ini juga sering terbawa dalam doa ratapan anak tiri pada update status paling populer di jejaring sosial facebook, sehingga nyaris selalu nyatus mengandung kalimat keluhan, membawa nama Tuhan agar menolongnya supaya bisa lepas dari kondisi tersebut.

Padahal, belum tentu Tuhan yang menyebabkan semua itu. Karena yang menciptakan perasaan tersebut adalah faktor dari si manusia itu sendiri, merupakan pilihan yang telah diputuskan olehnya, sehingga solusi akan tercipta tergantung dari upaya oleh pihak bersangkutan. Pasalnya, di balik lidah ada hati. Misalnya; perutku sakit banget nih Tuhan tolong aku, atau kerja dari pagi sampe malem bikin emosi aja Tuhan, sampai kapan penderitaanku akan berakhir Tuhan, aku kangen padanya Tuhan, ya Tuhan kepalaku cenat-cenut, sampai kapan aku harus minum obat ini Tuhan dan seterusnya tentang pengaduan kepada Tuhan facebook.

Namun apa jadinya jika hal itu terus terjadi. Kalau memang ingin berdoa, kenapa harus melalui facebook, atau jangan-jangan sekarang facebook sudah menjadi Tuhan modern di agama komunitas media sosial? Tidak adakah cara lain?

Inilah fenomena perkembangan abad internet. Tetap mendulang pahala ibadah tapi secara bersamaan sambil online, apa-apa saja yang dilakukan di facebook akan melipatgandakan pahala. Tapi masalahnya, jika seluruh aktivitas ibadah sudah dicacat di beranda facebook, lalu Malaikat pencatat amal baik dan Malaikat pencatat prilaku buruk akan mencatat apa?

  1. Tuhan telah mati. sekarang orang-orang punya tuhannya masing-masing, ia ada di tv, majalah, radio, medsos, bahkan bisa jadi di blog ini.heu
    hatur nuhun petuahna kang Addy :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya, dapet juga nih satu pasien yang insyaf. dari pada nggak sama sekaLi mah :D

      Delete
  2. Malaikat pindah kerja mas, jadi tukang pukul kelak buat yg nyembah facebook

    ReplyDelete