Narsis atau narsisme dapat didefinisikan sebagai perasaan mencintai diri sendiri secara berlebihan. Sebenarnya tidak sulit untuk menggolongkan seseorang yang terkategori narsis, tapi bukan pula hanya sebatas memandang seperti kebanyakan aktivis dunia maya yang gemar memamerkan foto diri, secara tidak langsung menganggap bahwa dirinya yang memiliki kecantikan atau ketampanan super hebat. Padahal kalau kita lihat, tampang dan pose mereka lumayan nyebelin, kebanyakan gaya. Namun dalam sisi lain, misalnya seperti saya yang suka PDOD (Percaya Diri Over Dosis, sering kelewatan kalau memuji diri sendiri, bahwa saya adalah orang yang paling cerdas, sok ganteng dan seterusnya gemar menceritakan tentang kelebihan-kelebihan saya. Padahal sebenarnya memang begitu adanya, seperti yang anda ketahui selama ini, bahwa saya adalah seorang penulis canggih dan multi talenta.
Artinya. Sikap narsis bukan hanya tercermin dari sikap seperti kebanyakan mereka yang rajin berfoto, kemudian dipublikasi secara besar-besaran dengan pose yang aneh-aneh di facebook atau instagram dan media sosial lainnya, padahal mereka bukan artis. Mungkin, memang terobsesi kepingin jadi artis kayak penyanyi dangdut dadakan. Tetapi juga bisa melalui pertanyaan maupun pernyataan mereka. Misalnya mereka kerap memancing suatu pembicaraan tapi ujung-ujungnya dijadikan modus untuk menonjolkan diri mereka sendiri. Mereka pun kurang peduli dengan keadaan orang lain akibat sikap mereka, juga tidak mau kalah dalam suatu perbincangan. Mereka akan berusaha mati-matian agar keberadaan hamper selalu di atas rata-rata rekan-rekannya.
Memungkinkan pula ada yang bermanuver lewat kepedulian atau lipstik sosial. Padahal sebenarnya mereka buka tipe orang yang berjiwa sosial, hanya berpura-pura peduli demi sebuah pengakuan dari orang lain, bahwa ingin menonjolkan dirinya adalah sosok sosialis. Misalnya, mereka mendadak berbaik hati padahal sebenarnya lumayan jutek, ada pula yang mendadak rendah hati padahal aslinya cukup sombong dan sikap dadakan lainnya yang diciptakan hanya karena modus dalam rangka. Contohnya, dalam rangka musim kerja bakti maka yang tadinya sangat jorok tapi berubah giat menjaga kebersihan seperti pekerja DPU, atau dalam rangka membaur dengan lingkungan sosial maka yang tadinya bersikap cuek bebek jadi ramah. Tetapi tidak lama berselang sikap apatisnya akan kumat lagi seperti semula. Dengan kata lain, sikapnya angin-anginan asalkan mendapat pujian.
Pada umumnya, jiwa sosial mereka perbuat hanya ingin dilihat oleh orang lain, padahal bertolak berlakang dengan pribadi aslinya. Maka jangan harap kritisi anda akan dianggap positif oleh orang-orang bertipikal seperti ini. Begitu pula dalam sebuah perbincangan yang perlu mengemukakan suatu pandangan, bisa jadi malah efeknya terjadi debat adu bacot, bukan sebuah tumpah darah diskusi yang mencerahkan.
Secara lisan, dapat ditandai oleh pembicaraan yang tidak mau kalah. Misalnya, ketika mereka bertanya; "Semalem kamu kemana, kuq nggak kelihatan?". Ketika lawan bicaranya menjawab; "Saya pergi ke mall anu". Biasanya mereka langsung main potong kompas dan bersambut dengan pernyataan; "Wah, saya juga sering tuh pergi kesitu. Tapi sekarang males soalnya bla…bla…bla… panjang kali lebar (yang intinya pingin tampak lebih berkelas). Dan sikapnya tidak peduli dengan lawan bicaranya. Kira-kira seperti itu.
Secara luas dalam beberapa ciri-ciri khusus bagi mereka yang narsis, ditandai oleh prilaku sebagai berikut. Tapi jangan tersinggung yaaa, kalau hanya merasa tersindir boleh deh.
Egosentris. Artinya dalam suatu pemikiran profesional yang menonjol, menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran. Mengungkap, bahwa sebuah ketidakberdayaan dalam membedakan perspektif diri dengan perspektik orang lain. Sulit di ajak diskusi. Dengan kata lain, beda-beda tipis dengan sikap egois.
Caper. Mereka jarang menonjolkan diri secara langsung tapi mampu membangun image yang menunjukkan betapa pentingnya mereka. Contohnya, dengan sengaja nyatus di facebook, bahwa mereka adalah orang penting, maksudnya penting untuk diketahui oleh orang banyak mengenai siapa tentang dirinya. Baik dalam hubungan sosial, status sosial, aktivitas, karir dan kelebihan-kelebihan lain yang ingin ditonjolkan secara memukau. Tetapi dalam hal ini, jangan sampai salah penafsiran, seseorang yang bersifat terbuka akan berbeda dengan mereka yang sengaja ingin menampakkan kebolehannya secara berlebihan.
Lipstik sosial dan topeng kemuliaan. Mereka ingin memukau orang lain dengan sikap, misalnya melalui kerendahan hati dan sifat-sifat kebaikan yang dimilikinya. Pasalnya, tidak semua orang narsis bersikap sombong dan arogan, sehingga mereka selalu menghindari segala bentuk yang dapat mempermalukan diri mereka sendiri. Atau, disebut ingin selalu tampak sempurna dan cemerlang, bahkan tidak mau tampak bodoh atau konyol, bahkan dengan keseriusan dan pemikiran briliannya justru membuat mereka terlihat sebagai orang dungu.
Sensi. Kalau mendengar atau melihat sesuatu yang seolah suatu kritisi atau perbedaan pandangan akan meningkatkan adrenalin emosionalnya, padahal belum tentu pernyataan atau ungkapan tersebut ditujukan kepada dirinya. Dengan kata lain, tingkat kecerdasan emosialnya rendah, jiwanya mudah terpengaruh dan sensitif kayak koreng baru kering, yang sebenarnya itu belum tentu menjadi urusan mereka.
Tanpa malu dan merasa bersalah, lebih mengutamakan kepentingan pribadi dari pada sedikit berkorban untuk kepentingan umum, nyaris selalu ingin didahulukan. Mau berbagi kalau ada maunya saja.
Hobi menyalahkan. Bagi mereka, kegagalan adalah hal yang memalukan, terobsesi oleh idealitas. Sulit untuk mengakui kesalahan, bahkan untuk sekedar meminta maaf. Sehingga efeknya lebih sering cari ayam eeeh kambing hitam.
*Sumber: Diri sendiri