Ketika puisi yang ditulis secara over acting dan over confidence, secara totalitas mementingkan tatanan bahasa, susunan kata-kata indah yang sengaja dirangkai supaya tampak manis. Tapi hasilnya?
Menyebalkan. Mati ekspresi, kosong penjiwaan, pamer setumpuk syair gombal, bahkan melenggok tanpa roh. Apalagi dinamika bahasanya, berupa ceceran muntahan kata yang sengaja dipoles menjadi cantik. Kenapa begitu?
Secara singkat karena penulisnya belum tahu, kalau sesungguhnya puisi adalah naturalitas ekspresi jiwa. Sejauh mana penulisnya tergugah oleh sebuah kesan, dan sebatas mana sentuhan karyanya bisa mengacak-acak obsesi yang sedang dirasakan. Kemudian efeknya, akan mengigit perasaan perhatian pembaca.