Jika fokus penulisan sastra hanya mengarah kepada gaya bahasa, sengaja mencari-cari kata yang terlupakan, bahkan bolak balik buka kamus bahasa supaya tampak ahli. Pasti tidak akan terasa roh penulisnya. Maka efeknya, terjadilah karya fiksi yang gagal. Mungkin lebih cocok disebut karya mading sekolah, penulis puisi di kandang sendiri, dibawa sendiri dan disembunyikan sendiri. Kemudian dirobek-robek sendiri. Menulis sebait puisi tapi memerlukan satu rim kertas, menulis satu judul puisi tapi butuh setumpuk buku.
Sebab, karya sastra yang disebut berhasil adalah suatu tulisan yang sanggup mengoyak hati pembaca. Mereka jadi terusik, walau kadang tidak terungkap tapi ada sesuatu yang melekat dalam kesadaran mereka. Hanya tercipta dari sebuah transfer pesan moral dibalik kisah fiksi atau jenis tulisan fiksi lainnya, bukan terlahir dari permainan kata-kata maupun retorika bahasa. Indah tetapi kosong makna, bahkan arwah tulisan yang pucat pasi tanpa roh penulisnya, karena ditulis berdasarkan penjiwaan yang sangat hati-hati tapi dampaknya pembaca tidak merasakan efek psikologis apapun. Dengan kata lain, tangannya menorehkan kata-kata puitis tapi hatinya khawatir terhadap respon pembaca, maka pikirannya turut mengolah untuk mengarahkan respon pembaca.
Maka dari itu, kembalilah ke jalan yang benar. Jangan cuma baru jago bermain kata-kata manis tapi sudah berlagak bak seorang sastrawan hebat, merasa lihai nulis puisi, ahli mengarang cerita fiksi. Cobalah dikaji ulang, apakah kata-kata yang ditulis sudah benar-benar tepat dan tidak salah tempat? Atau jangan-jangan, anda sendiri terasa mau muntah membacanya?